• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Global Warming Picu Gelombang Panas Laut dan Kematian Massal Ubur-Ubur di Dunia

by Redaksi Asiatoday
March 25, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Global Warming Picu Gelombang Panas Laut dan Kematian Massal Ubur-Ubur di Dunia 1

Kematian massal Ubur-ubur di pesisir pantai. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemanasan global yang ekstrem telah memicu terjadinya gelombang panas air laut dan mengakibatkan kematian massal Ubur-ubur di sepanjang pantai 1.000 kilometer di seluruh dunia. Kematian ini tercatat mulai tahun 2015 hingga tahun 2019 lalu.

Julia Parrish, seorang profesor University of Washington mengatakan, selama pengamatannya ia menemuka banyak bangkai ubur-ubur terdampar disejumlah pantai.

“Di sana mereka mati dan menutupi pasir pantai yang putih,” katanya dikutip Science Alert, Kamis (25/3/2021).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Ubur-ubur jenis Velella yang terdampar adalah hal biasa ketika angin musim mengubah arah angin. Tetapi peristiwa tahun 2006 di pantai barat Selandia Baru – berada di tingkat yang sama sekali berbeda, karena jumlah Ubur-ubur yang mati jumlahnya mencapai jutaan.

Para peneliti menemukan hampir 500 laporan tentang Velella yang terdampar di database COASST, terlihat di hampir 300 pantai. Menurut laporan ini, kematian terbesar sejauh ini terjadi selama bulan-bulan musim semi dari 2015 hingga 2019. Selama tahun-tahun itu, Ubur-ubur mati berserakan lebih dari 1.000 kilometer dari garis pantai.

Kematian Ubur-ubur itu juga bertepatan dengan gelombang panas laut yang sangat besar yang dikenal sebagai gumpalan. Mulai 2013, permukaan air di lepas pantai Pasifik mulai memanas ke tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya, lapor Live Science sebelumnya.

Pemanasan hebat terus berlanjut hingga 2016, merusak setiap tingkat rantai makanan laut dan mengakibatkan kematian massal burung laut, paus balin, singa laut, dan makhluk lainnya.

Menurut studi terbaru, kemungkinan gumpalan itu memicu kematian massal Ubur-ubur pelaut yang diterpa angin yang dilaporkan selama tahun-tahun itu.

“Iklim yang berubah menciptakan pemenang dan pecundang baru di setiap ekosistem,” kata Parrish. (ATN)

Tags: Global WarmingKonservasi LautPemanasan GlobalSave Ocean
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.