• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

ASEAN Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati di Dunia, Strategis Bagi Investasi Kesehatan

by Redaksi Asiatoday
April 8, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
ASEAN Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati di Dunia, Strategis Bagi Investasi Kesehatan

Kantor Pusat Keanekaragaman Hayati ASEAN (ASEAN Center for Biodiversity/ACB). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dianggap sebagai pusat keanekaragaman hayati di dunia. Kekayaan itu dipandang sangat strategis untuk menjadi peluang investasi berkelanjutan khususnya di sektor kesehatan.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Keanekaragaman Hayati ASEAN (ASEAN Center for Biodiversity/ACB) Theresa Mundita S. Lim, berinvestasi dalam keanekaragaman hayati menjadi bagian penting terhadap kesehatan manusia.

“Kami telah melihat bagaimana pandemi Covid-19 mengungkap hubungan yang rapuh antara manusia dan alam,” ujar dia melalui dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (8/4/2021).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Momentum Hari Kesehatan Sedunia yang diperingati setiap 7 April, Theresa memandang tema ‘Building a Fairer, Healthier World‘ (Membangun Dunia yang Lebih Adil dan Lebih Sehat) adalah pengingat yang tepat bahwa kesehatan adalah dasar dari pemulihan ekonomi dan kemakmuran.

“Untuk mencapai hal itu, dibutuhkan investasi yang sesuai di alam dan keanekaragaman hayati,” imbuhnya.

Di kawasan ASEAN, hingga 31 Maret 2021 pandemi Covid-19 telah merenggut 58.589 jiwa, dengan 2.827.782 kasus yang dikonfirmasi sejak 2020.

Namun, akhir pandemi belum terlihat seiring dengan gelombang baru infeksi yang melanda beberapa negara di dunia dan ancaman penyakit baru yang muncul. Ia menilai keanekaragaman hayati sangat berharga dalam memastikan kesehatan bagi semua.

Menurut dia, keanekaragaman hayati yang sehat meliputi keragaman genetik, spesies, dan ekosistem adalah komponen vital, karena tidak hanya membangun ketahanan dari penyakit, tetapi juga mempersempit kesenjangan sistem kesehatan.

“Dengan keanekaragaman hayati yang kurang sehat, manusia berada pada risiko besar,” jelasnya.

Ia merujuk laporan pandemi Covid-19 terbaru dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang memperingatkan tentang bagaimana peningkatan aktivitas manusia mendorong risiko pandemi.

“Laporan tersebut mengidentifikasi eksploitasi lingkungan yang tidak berkelanjutan karena perubahan penggunaan lahan, perluasan pertanian, perdagangan, dan konsumsi satwa liar yang mengganggu interaksi alami antara satwa dan mikroba mereka,” katanya.

Di ASEAN, penyakit kardiovaskular, masalah pernapasan kronis, dan diabetes merupakan penyebab utama kematian.

“Ini sebagian besar didorong oleh kurangnya akses makanan dan keanekaragaman makanan, lingkungan yang aman dan gaya hidup aktif. Oleh karena itu, sangat penting bahwa lingkungan yang mendukung menjamin ekosistem yang sehat,” jelasnya.

Theresa memandang, ASEAN merupakan rumah bagi beragam spesies tanaman obat. Dalam mengatur dan mengelola sumber daya ini menekankan keterkaitan yang kuat antara kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati.

Misalnya, Senna alata atau akapulko, tanaman obat yang ada di enam negara anggota ASEAN memiliki sifat antiradang, antijamur, dan lain-lain. Kemudian, terdapat juga Euphorbiaceae atau prakplae di Kamboja, digunakan sebagai obat alami untuk diabetes dan gangguan pencernaan.

Selain manfaat pengobatan dan kesehatan, sumber daya obat yang ditemukan di alam juga memberikan penghasilan tambahan dan mata pencaharian bagi banyak komunitas.

“Segala bentuk investasi dalam keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat tidak akan pernah sia-sia. Manfaat nyata dari melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayatinya tidak dapat dihitung dan dapat dinikmati oleh generasi ke generasi,” imbuh Theresa. (ATN)

Tags: ASEAN Center for BiodiversityBiodiversityGreen InvestmenKeanekaragaman Hayati
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.