• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Proyek FPSO Australia Potensi Cemari Laut Indonesia

Friends of the Earth Australia dan WALHI/Friends of the Earth Indonesia Desak Pemerintah Australia Kaji Ulang  Rencana Pelepasan Minyak, Bahan Radioaktif dan Racun Lain di Laut dekat Indonesia

by Redaksi Asiatoday
May 17, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kasus Pencemaran Minyak: PTTEP Australasia Diperintahkan Bayar Kerugian Petani Indonesia

Ladang minyak Montara PTTEP Australasia yang meledak dan mencemari perairan Laut Timor dan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NNT) Pada 21 Agustus 2009. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Organisasi lingkungan hidup Friends of the Earth Australia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)/Friends of the Earth Indonesia mendesak Pemerintah Australia untuk mengkaji ulang rencana pelepasan minyak, bahan radioaktif dan racun lain di laut dekat Indonesia.

Desakan itu disuarakan setelah Pemerintah Australia mengumumkan rencana proyek yang berpotensi membuang bahan radioaktif, minyak, dan racun lain dalam jumlah yang dirahasiakan ke Laut Timor, sekitar 155 kilometer dari garis pantai Indonesia.

Dalam rencana tersebut, Penyimpanan dan pembongkaran produksi terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) Northern Endeavour akan “diderek” melalui perairan Indonesia ke “lokasi yang dirahasiakan” di Asia untuk dibongkar. Beberapa detil dalam dokumen rencana ini menunjukkan adanya risiko besar kebocoran minyak selama operasi ini.

RelatedPosts

Indonesia Leads Regional Green Alliance Against Cross-Border Pollution

IPB Expert: Nickel Mining in Halmahera Threatens Marine Ecosystems and Coastal Livelihoods

Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives

Menurut Friends of the Earth Australia (FoEA), pemerintah Australia mencoba menghindari pengawasan publik secara nasional dan internasional dengan cara diam-diam membuat pengajuan rencana minggu lalu—di tengah masa penyusunan anggaran yang disebut ‘budget week’. Tenggat waktu persetujuan rencana tersebut adalah Jumat, 12 Mei 2023. Tidak ada pelibatan pemangku kepentingan dan tidak ada konsultasi publik.

Friends of the Earth Australia (FoEA) mendesak perpanjangan tenggat waktu persetujuan, sehingga pemangku kepentingan dan publik memiliki waktu untuk mengkaji dokumen dan memberikan tanggapan atas rencana tersebut.

Menurut Offshore Gas Campaigner dari FoEA, Jeff Waters, rencana ini sebagai tindakan keterlaluan Pemerintah Federal Australia.

“Saat akan melakukan decommissioning aset, Perusahaan bahan bakar fosil harus menggunakan pedoman yang ketat dari regulator industri, baik saat aktivitas pembuangan maupun pada saat konsultasi. Namun saat Departemen Lingkungan Pemerintah Federal Australia merencanakan decommissioning Northern Endeavour ini, seluruh pedoman keselamatan yang ada, mendadak tidak lagi dipakai,” jelas Jeff Waters.

Dalam keterangan lebih lanjut, FoEA menyampaikan bahwa solusi terbaik dari decommissioning semacam ini adalah dengan mengangkut anjungan tua dan kotor ke tempat pembongkaran dan fasilitas daur ulang di darat agar limbah beracun dapat dikelola dan tidak mencemari lingkungan.

Karena itu Friends of the Earth Australia menuntut perpanjangan tenggat waktu persetujuan dan memastikan tidak ada bahan radioaktif berbahaya atau limbah beracun lain yang boleh dibuang ke laut selama proses tersebut.

Manajer Kampanye Tambang dan Energi Walhi, Fanny Tri Jambore juga turut menyerukan agar pemerintah Indonesia merespon ancaman bahaya tumpahan minyak, bahan radioaktif dan limbah beracun lain dari rencana decommissioning FPSO Northern Endeavour ke perairan Indonesia.

“Pada setiap rencana proyek yang menunjukkan adanya ancaman bahaya pada keselamatan lingkungan dan manusia, maka telaah yang mendalam dan konsultasi yang berarti adalah syarat penting, untuk memastikan tidak adanya korban di lingkungan dan komunitas, sehingga konsultasi untuk proses dekomisioning ini harusnya juga melibatkan pemilik tradisional dari pulau-pulau di sekitar laut Timor dan pemerintah Indonesia” terang Fanny Tri Jambore, dalam siaran pers WALHI yang dikutip di Jakarta, Rabu (17/5/2023).

Keterlibatan pihak Indonesia dalam konsultasi dan keputusan decommissioning FPSO Northern Endeavour yang akan melewati perairan Indonesia menjadi penting, mengingat kejadian tumpahan minyak dari aktivitas pertambangan minyak di lepas landas kontinen pernah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang merugikan ribuan warga di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Pengadilan Australia pada akhirnya memenangkan gugatan warga NTT atas kerugian yang mereka terima akibat tumpahan minyak ini.

Direktur WALHI Nusa Tenggara Timur, Umbu Wulang Tanaamahu menyampaikan bahwa trauma kerusakan lingkungan dari aktivitas industri bahan bakar fosil ini masih melekat pada warga di NTT, sehingga aktivitas yang bisa mengarah kepada terulangnya kerusakan semacam ini harus diminimalisir.

”Pemerintah Federal Australia seharusnya menggunakan standar keselamatan lingkungan yang ketat dan memastikan bahwa rencana dekomisioning FPSO Northern Endeavour dikaji ulang agar tidak lagi mengulang tragedi kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak di NTT” terang Umbu Wulang Tanaamahu. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Friends of The EarthPencemaran LautSave OceanWalhi
No Result
View All Result

Terbaru

  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • ASEAN, Russia Agree to Deepen Economic Cooperation Amid Global Uncertainty
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.