• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Bumi Kian Menderita, Emisi Karbon Perparah Lubang Ozon di Antartika

by Redaksi Asiatoday
October 22, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Bumi Kian Menderita, Emisi Karbon Perparah Lubang Ozon di Antartika

Kerusakan lapisan ozon di atmosfer akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Foto: German Aerospace Center

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Planet bumi kian menderita. Rendahnya kesadaran manusia untuk mengurangi dan menghentikan emisi karbon, terus berkontribusi terhadap penipisan lapisan ozon di atmosfer.

Hasil riset terbaru dari German Aerospace Center memperlihatkan, lubang ozon di atas Antartika menjadi salah satu yang terbesar dan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, lubang tersebut telah mencapai ukuran maksimumnya.

Pengukuran dari satelit milik European Space Agency (ESA), Copernicus Sentinel-5P menunjukkan bahwa lubang ozon tahun ini mencapai ukuran maksimum sekitar 25 juta km persegi pada 2 Oktober.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Ukuran lubang ozon tahun ini sebanding dengan ukuran 2018 dan 2015, masing-masing dengan luas 22,9 juta dan 25,6 juta meter persegi dalam periode yang sama.

Kondisi ini kian mengerikan. Padahal tahun lalu, lubang ozon tidak hanya menutup lebih awal dari biasanya, tetapi juga lubang terkecil yang tercatat dalam 30 tahun terakhir.

Ukuran lubang ozon berfluktuasi secara teratur. Dari Agustus hingga Oktober, lubang ozon bertambah besar dan mencapai ukuran maksimum antara pertengahan September dan pertengahan Oktober.

Ketika suhu tinggi di stratosfer mulai naik di belahan bumi selatan, penipisan ozon melambat, pusaran kutub melemah dan akhirnya rusak, dan pada akhir Desember tingkat ozon kembali normal.

“Pengamatan kami menunjukkan bahwa lubang ozon tahun 2020 telah berkembang pesat sejak pertengahan Agustus dan menutupi sebagian besar benua Antartika dengan ukurannya jauh di atas rata-rata,” terang Diego Loyola, dari German Aerospace Center.

Manajer misi ESA untuk Copernicus Sentinel-5P, Claus Zehner, menerangkan lubang ozon yang ditemukan entinel-5P memberikan cara yang akurat untuk memantau kejadian lubang ozon dari luar angkasa.

“Fenomena lubang ozon tidak dapat digunakan secara langsung untuk memantau perubahan ozon global karena ditentukan oleh kekuatan medan angin kuat regional yang mengalir di sekitar area kutub,” kata Zehner.

Dikutip dari ESA, meluasnya penggunaan chlorofluorocarbons (CFC) yang biasa ada di lemari es dan kaleng aerosol pada 1970-an dan 1980-an telah merusak lapisan ozon.

Atas kondisi itu, Protokol Montreal dibuat pada tahun 1987 untuk melindungi lapisan ozon dengan menghentikan produksi dan konsumsi zat berbahaya ini secara bertahap untuk memulihkan lapisan ozon.

Dilansir dari CNN, laporan tahun 2018 oleh Program Lingkungan PBB dan WMO memperkirakan bahwa nilai ozon di atas Antartika akan kembali ke level sebelum 1980-an pada tahun 2060.

“Berdasarkan Protokol Montreal dan penurunan zat antropogenik perusak ozon, para ilmuwan saat ini memperkirakan bahwa lapisan ozon global akan mencapai keadaan normalnya lagi sekitar tahun 2050,” kata Zehner. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyEmisi KarbonGerman Aerospace CenterGlobal WarmingOzonSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.